Sabtu, 05 Desember 2015

Menuju perpustakaan ideal., hayu atuh!!!

Berhubung hari ini saya sedang berada di provinsi Jambi, jadi saya akan membahas perpustakaan yang ada di provinsi ini.., cekidooot... 

maaf karna faktor internal perpustakaan tidak bisa ditampilkan.



Bangunan perpustakaan yang terletak di Jl. Prof Sumantri Bojonegoro, Telanaipura letaknya sangat strategis dan  megah. Sayang kemegahan bangunan ini tidak berhasil untuk  menarik minat pengunjung. Setiap harinya lahan parkir yang begitu luas tampak sepi dan hanya diisi oleh beberapa kendaraan roda dua. Dan pengunjung yang datang pun tidak begitu banyak, hal ini bisa di lihat dari jumlah pengunjung yang mengisi buku tamu setiap harinya. Dan kebanyakan dari pengunjung perpustakaan adalah pelajar dan mahasiswa yang mencari reverensi tentang tugas mereka. Buku-buku yang tersedia masih sangat terbatas sehingga pembaca masih dibuat haus bacaan.
Aspek di atas adalah salah satu penyebab keterpurukan dunia perpustakaan. Namun, hal ini seharusnya tidak menjadi pembenaran. Kehadiran perpustakaan memang diharapkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Karena itu jika minat baca masyarakat tidak kunjung meningkat, maka hal ini seharusnya menjadi indikator adanya kebijakan yang salah terhadap perpustakaan tanah air.
Melihat ini pemerintah provinsi Jambi seharusnya mulai tegas mengambil tindakan karena selain mendorong minat baca, kehadiran perpustakaan juga sebagai representasi untuk membangun sumberdaya manusia khususnya di kota Jambi.
Berdasarkan UU No 43 tahun 2007, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara professional dengan system yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan. Selain itu perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat.
Idealnya sebuah perpustakaan mampu memberdayakan masyarakat dengan tujuan melakukan revolusi minat baca, mengubah karakter masyarakat yang tidak suka membaca menjadi suka membaca, mengubah masyarakat tuna informasi menjadi masyarakat yang berliteras.
Untuk itu demi mewujudkan perpustakaan yang ideal, hendaknya pemerintah kota Jambi melakukan kebijakan dengan peningkatan struktur dan mutu perpustakaan. Desain interior perpustakaan sudah cukup baik hanya saja tampak sedikit kaku. Sebaiknya setiap ruang diperpustakaan dibuat semenarik mungkin bisa memainkan warna yang kontras. Untuk membuat ruangan tampak menarik sebenarnya tidak harus mahal.
Dan yang terpenting ada 4 elemen penting yang menjadi obyek bidikan agenda besar peningkatan minat baca masyarakat untuk mewujudkan perpustakaan ideal, yakni pemerintah, perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah berperan sebagai penentu kebijakan utama, perpustakaan sebagai fasilitas, pustakawan sebagai agen perubahan dan masyarakat sebagai obyek.
Umumnya perpustakaan hanya bersifat sebagai tempat peminjaman buku. Tidak hanya perpustakaan yang ada di daerah saja, perpustakaan yang ada di kota juga demikian. Tentu saja ini mengundang rasa jenuh pengunjungnya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam membangun perpustakaan ideal. tinya
Pertama, harus ada jaringan networking yang kuat. Artinya dibutuhkan kerjasama antar perpustakaan di daerah dan kota untuk membangun relasi yang banyak dengan pegawai perpustakaan karena inilah modal utama menuju perpustakaan yang ideal.
Kedua, memiliki akses cepat, tepat dam mampu memberikan layanan secara maksimal. Perpustakaan ideal tentu mampu mengakses literatur, seperti buku-buku, skripsi, tesis dan jaringan internet. Secara finansilan tentu akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun perpustakaan model ini. Tapi secara kualitas perpustakaan tersebut bisa merespresentasikan menjadi perpustakaan paling ideal.
Ketiga, kelengkapan akan koleksi bukunya. Seringkali pengunjung mendapati buku yang mereka butuhkan tidak ada di di perpustakaan. Sebetulnya hal ini bisa dihindari dengan melakukan kerjasama antar perpustakaan tanpa harus membeli seluruh koleksi buku demi melayani pengunjung. Kerjasama ini selain menguntungkan pengunjung juga bisa meminimalisir biaya dan menambah pengalaman kerja para pustakawan karena mereka akan saling bertukar informasi sehingga para pustakawan ini bisa dikatakan pustakawan yang qualified.
Keempat, adanya agenda rutin. Agenda rutin ini bisa bersifat mingguan, bulanan dan tahunan. Dimana perpustakaan tidak hanya sebagai tempat peminjaman buku tapi juga bagaiamana perpustakaan itu menarik minat anggotanya. Dengan melakukan angenda rutin semisal diskusi, debat, seminar atau symposium yang mendatangkan tokoh-tokoh ternama untuk memberikan simulasi betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih giat untuk menggali informasi di perpustakaan tersebut.
Dan yang terpenting selain keempat hal di atas. Perpustakaan harus lolos ujian sertifikasi yang terkait dengan administrasi seperti ketersediaan fasilitas yang lengkap, baik itu computer, LCD, ruang baca, ruang multimedia, ketersediaan buku tamu dan absen para anggotanya serta pustakawan yang cerdas. Karena keadmisnistrasianlah yang menjadi salah satu poin utama menuju perpustakaan ideal.

Akan sangat disayangkan bila perpustakaan yang dibangun dengan biaya berjuta-juta bahkan milyaran harus sepi pengunjung karena tidak adanya tindakan yang diambil oleh pemerintah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar