Berhubung hari ini saya sedang berada di provinsi Jambi, jadi saya akan membahas perpustakaan yang ada di provinsi ini.., cekidooot...
maaf karna faktor internal perpustakaan tidak bisa ditampilkan.
Bangunan
perpustakaan yang terletak di Jl. Prof Sumantri Bojonegoro, Telanaipura letaknya
sangat strategis dan megah. Sayang
kemegahan bangunan ini tidak berhasil untuk
menarik minat pengunjung. Setiap harinya lahan parkir yang begitu luas
tampak sepi dan hanya diisi oleh beberapa kendaraan roda dua. Dan pengunjung
yang datang pun tidak begitu banyak, hal ini bisa di lihat dari jumlah
pengunjung yang mengisi buku tamu setiap harinya. Dan kebanyakan dari
pengunjung perpustakaan adalah pelajar dan mahasiswa yang mencari reverensi
tentang tugas mereka. Buku-buku yang tersedia masih sangat terbatas sehingga
pembaca masih dibuat haus bacaan.
Aspek
di atas adalah salah satu penyebab keterpurukan dunia perpustakaan. Namun, hal
ini seharusnya tidak menjadi pembenaran. Kehadiran perpustakaan memang
diharapkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Karena itu jika minat baca
masyarakat tidak kunjung meningkat, maka hal ini seharusnya menjadi indikator
adanya kebijakan yang salah terhadap perpustakaan tanah air.
Melihat
ini pemerintah provinsi Jambi seharusnya mulai tegas mengambil tindakan karena
selain mendorong minat baca, kehadiran perpustakaan juga sebagai representasi
untuk membangun sumberdaya manusia khususnya di kota Jambi.
Berdasarkan
UU No 43 tahun 2007, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya
tulis, karya cetak dan karya rekam secara professional dengan system yang baku
guna memenuhi kebutuhan pendidikan. Selain itu perpustakaan diselenggarakan
berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat.
Idealnya
sebuah perpustakaan mampu memberdayakan masyarakat dengan tujuan melakukan
revolusi minat baca, mengubah karakter masyarakat yang tidak suka membaca
menjadi suka membaca, mengubah masyarakat tuna informasi menjadi masyarakat
yang berliteras.
Untuk
itu demi mewujudkan perpustakaan yang ideal, hendaknya pemerintah kota Jambi
melakukan kebijakan dengan peningkatan struktur dan mutu perpustakaan. Desain
interior perpustakaan sudah cukup baik hanya saja tampak sedikit kaku. Sebaiknya
setiap ruang diperpustakaan dibuat semenarik mungkin bisa memainkan warna yang
kontras. Untuk membuat ruangan tampak menarik sebenarnya tidak harus mahal.
Dan
yang terpenting ada 4 elemen penting yang menjadi obyek bidikan agenda besar peningkatan
minat baca masyarakat untuk mewujudkan perpustakaan ideal, yakni pemerintah,
perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah berperan
sebagai penentu kebijakan utama, perpustakaan sebagai fasilitas, pustakawan
sebagai agen perubahan dan masyarakat sebagai obyek.
Umumnya
perpustakaan hanya bersifat sebagai tempat peminjaman buku. Tidak hanya
perpustakaan yang ada di daerah saja, perpustakaan yang ada di kota juga
demikian. Tentu saja ini mengundang rasa jenuh pengunjungnya.
Ada
beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam membangun perpustakaan
ideal. tinya
Pertama,
harus ada jaringan networking yang kuat. Artinya dibutuhkan kerjasama antar
perpustakaan di daerah dan kota untuk membangun relasi yang banyak dengan pegawai
perpustakaan karena inilah modal utama menuju perpustakaan yang ideal.
Kedua,
memiliki akses cepat, tepat dam mampu memberikan layanan secara maksimal.
Perpustakaan ideal tentu mampu mengakses literatur, seperti buku-buku, skripsi,
tesis dan jaringan internet. Secara finansilan tentu akan membutuhkan biaya
yang tidak sedikit untuk membangun perpustakaan model ini. Tapi secara kualitas
perpustakaan tersebut bisa merespresentasikan menjadi perpustakaan paling
ideal.
Ketiga,
kelengkapan akan koleksi bukunya. Seringkali pengunjung mendapati buku yang
mereka butuhkan tidak ada di di perpustakaan. Sebetulnya hal ini bisa dihindari
dengan melakukan kerjasama antar perpustakaan tanpa harus membeli seluruh
koleksi buku demi melayani pengunjung. Kerjasama ini selain menguntungkan
pengunjung juga bisa meminimalisir biaya dan menambah pengalaman kerja para
pustakawan karena mereka akan saling bertukar informasi sehingga para
pustakawan ini bisa dikatakan pustakawan yang qualified.
Keempat,
adanya agenda rutin. Agenda rutin ini bisa bersifat mingguan, bulanan dan
tahunan. Dimana perpustakaan tidak hanya sebagai tempat peminjaman buku tapi
juga bagaiamana perpustakaan itu menarik minat anggotanya. Dengan melakukan
angenda rutin semisal diskusi, debat, seminar atau symposium yang mendatangkan
tokoh-tokoh ternama untuk memberikan simulasi betapa pentingnya ilmu
pengetahuan dan teknologi agar lebih giat untuk menggali informasi di
perpustakaan tersebut.
Dan
yang terpenting selain keempat hal di atas. Perpustakaan harus lolos ujian
sertifikasi yang terkait dengan administrasi seperti ketersediaan fasilitas
yang lengkap, baik itu computer, LCD, ruang baca, ruang multimedia,
ketersediaan buku tamu dan absen para anggotanya serta pustakawan yang cerdas.
Karena keadmisnistrasianlah yang menjadi salah satu poin utama menuju
perpustakaan ideal.
Akan
sangat disayangkan bila perpustakaan yang dibangun dengan biaya berjuta-juta
bahkan milyaran harus sepi pengunjung karena tidak adanya tindakan yang diambil
oleh pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar